Intrik di Balik Warung Pecel Lele

Sore itu, saya duduk manis di depan laptop sambil menatap linimasa Twitter. Meskipun sedang berpuasa, jagat media sosial tetap riuh oleh perdebatan pilpres yang tak berkesudahan. Ujaran kebencian bertebaran ke mana-mana, melempar isu tanpa arah. Rupanya, perutnya puasa, tapi jempolnya tidak. Ironis.


















Tanpa terasa, jarum jam menunjuk pukul setengah enam sore waktu berbuka tinggal sebentar lagi. Saya menanti suara merdu muadzin, namun yang terdengar justru dering telepon. Ternyata, itu Kang Hamim, teman dekat saya sekaligus rekan seperkopian. Bedanya, Hamim lebih alim karena lulusan pesantren. Ia putra seorang kiai, tapi gayanya tetap santai dan gaul, jauh dari kesan kaku.



“Mbah, posisi di mana?” tanyanya.

 “Masih di sekolah, Mbah. Kenapa?”

“Aku mau buka puasa di tempatmu,” jawabnya singkat.

“Sendiri atau sama siapa?”

“Ya ada lah, nanti tahu sendiri!” ujarnya misterius.


Rasa penasaran pun tumbuh, tapi saya biarkan. Tak lama kemudian, azan Maghrib berkumandang. Saya meneguk segelas teh manis, lalu sepuluh menit kemudian terdengar suara motor berhenti di halaman. Jlegedeggg. Saya keluar, dan dari balik masker tengkorak, muncul wajah yang familiar Kang Ilun.


Ilun adalah sahabat lama kami. Setahun terakhir ia bekerja di Jakarta, dan kali ini ia mudik. Hamim menjemputnya di stasiun, lalu membawanya ke tempat saya. Setelah berbuka sederhana dengan teh dan es buah, kami bertiga menunaikan salat Maghrib berjamaah.


Saat kembali ke ruang tamu, ternyata sudah ada Risky mahasiswa yang baru pulang dari Depok untuk mengikuti diklat jurnalistik. Kami berempat pun sepakat mencari makan untuk benar-benar “membuka puasa.” Motor dinyalakan, dan kami melaju pelan di jalan utama Gombong, menelusuri deretan warung.


Akhirnya, pilihan jatuh pada warung sederhana bertuliskan “Pecel Lele Lamongan.”

Siapa yang tak kenal warung semacam ini? Ia adalah penyelamat kaum mager masak, perantau, dan masyarakat malam yang lapar tapi malas ribet.


Kami pun duduk, dan Ilun menjadi juru pesan.


“Kamu ayam atau lele?” tanyanya padaku.

“Ayam, minumnya air putih aja.”

“Aku juga ayam,” sahut Hamim.

“Aku lele, Kang!” seru Risky penuh semangat.


Namun, penjual tiba-tiba menimpali,


“Maaf, Mas. Lelenya habis.”


Risky langsung lemas. “Ya sudah, ayam saja, Pak,” jawabnya pasrah.

Akhirnya, kami semua memesan ayam goreng.


Sekitar sepuluh menit menunggu, dua orang penjual pria mulai sibuk di dapur kecilnya. Pemandangan itu agak jarang, tapi menurut mitos kuliner, masakan pria katanya lebih enak meski belum tentu benar.


Tak lama kemudian, hidangan datang: ayam goreng dengan sambal lamongan khas di atas cobek, lalapan segar, dan nasi hangat mengepul. Aroma harum itu seolah menampar indra penciuman kami. Tak menunggu lama, ayam goreng langsung kami sikat tanpa ampun.


Suasana makan jadi hening. Tak ada percakapan, hanya suara sendok, cobek, dan gelegak es jeruk. Makan bagi kami memang ibadah paling khusyuk.


Setelah piring kosong dan perut kenyang, kami bersandar santai sambil bercanda ringan. Namun, tiba-tiba Risky berteriak,


“Lelene ucul, Pak!”


Kami semua refleks menoleh. Benar saja seekor ikan lele menggeliat di bawah kolong meja! Penjual buru-buru menunduk, menangkap lele itu, lalu memasukannya ke ember tanpa sepatah kata. Ekspresinya datar, seperti sudah terbiasa dengan drama semacam itu.


Kami pun tertawa geli.


Kena azab, wani-wanine nglomboni aku!” celetuk Risky, menertawakan nasibnya yang gagal makan lele.


Malam itu, kami baru sadar: warung pecel lele ternyata penuh intrik. Dari namanya saja sudah menipu “pecel lele” padahal tak pernah ada “pecelnya.” Bahkan kadang, lelenya pun nihil. Yang ada justru ayam dan bebek goreng. Tapi, entah kenapa, reputasi pecel lele tetap harum di hati masyarakat.


Mungkin, si penjual punya alasan. Bisa jadi, karena hanya satu orang yang pesan lele, jadi malas menggoreng. Prosesnya memang ribet harus menyembelih dulu, baru digoreng. Beda dengan ayam yang tinggal “nyemplung” ke minyak panas. Praktis dan cepat.

Namun dari kejadian sederhana itu, saya belajar satu hal: kejujuran tetap nomor satu.

Kata Pak Kiai, biar usaha berkah, jangan banyak “intrik.”

Kalau jual pecel lele, ya sebaiknya memang ada lelenya meski cuma satu ekor.



Repost: Ditulis pada 19 Mei 2019
Ilustrasi: AI

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.