Angkringan (Cerita Pendek)
Di ujung jalan yang jarang dilalui, terdapat sebuah angkringan sederhana yang hampir tak pernah terlihat ramai. Kain lusuh dengan warna hijau stabilo hampir pudar yang bertuliskan 'Angkringan Tentrem', dengan meja kayu yang sedikit lapuk, dan lampu temaram yang dihinggapi serangga kecil berterbangan. Tempat ini lebih sering sepi daripada penuh, seperti terabaikan oleh kehidupan yang sibuk. Tak ada tanda-tanda kesibukan atau keramaian yang biasanya menyertai angkringan lainnya. Seolah, angkringan ini memang tidak berniat untuk menarik perhatian orang. Sungguh aneh memang, biasanya orang memulai bisnisnya dengan merancang sebuah marketing-nya, lah ini tidak. Ia ada, namun bukan untuk meramaikan beranda dunia, hanya ada di sana, di sudut kota yang hampir terabaikan.
Pak Agus, pemilik angkringan ini, adalah pria paruh baya yang terlihat lebih sering diam daripada berbicara. Lempeng. Sebelumnya, ia bekerja di sebuah kantor pemerintahan selama bertahun-tahun, tapi setelah pensiun, ia memilih untuk membuka usaha angkringan ini. Mungkin untuk mengisi waktu dari pada nganggur, atau mungkin juga sebagai pelarian dari kebisingan dunia luar yang sudah terlalu banyak, tidak seperti kebanyakan pensiunan yaitu melanjutkan kehidupan dengan sekadar menekuni hobi seperti memelihara burung kicau, menggendong cucu atau memulai bertani.
Sepertinya tidak ada rasa ingin berjualan dengan penuh semangat atau mengejar pelanggan lebih banyak. Pak Agus lebih sering duduk dengan tenang, tidak jarang sambil menunggu pelanggan yang datang menyibukkan dengan nonton di aplikasi Snack Video, sesekali juga menyendok nasi kucing untuk pelanggan yang baru datang, lalu kembali pada posisinya yang sunyi. Ia tak pernah menawarkan lebih dari apa yang ada, sekadar teh hangat, wedang jahe, tempe bacem dan nasi kucing. Itu saja.
Malam itu, Dika, seorang manajer muda yang merasa terperangkap dalam kebisingan kehidupannya, tiba-tiba mendapati dirinya berjalan tanpa tujuan, seperti linglung. Tumpukan pekerjaan di kantor, rapat yang tiada habisnya, dan suara telepon yang tak pernah berhenti mengganggunya, semuanya mulai membuatnya merasa dunia ini sesak, dan berputar begitu-begitu saja. Pikirannya sumpeg, dan ia membutuhkan tempat untuk berhenti, untuk sekadar melepaskan diri dari rutinitas yang terasa menguras pikiran, perkataan dan perbuatan. Tanpa alasan yang jelas, ia berjalan menyusuri trotoar dan mendapati sebuah angkringan di ujung jalan yang sepi.
Dika berhenti, menatap angkringan itu sejenak, merasa ada yang aneh. Tempat ini begitu sunyi, bahkan terlalu sunyi untuk sebuah angkringan. Seperti tidak ada yang benar-benar menginginkannya. Ia memutuskan untuk masuk, meskipun tidak tahu apa yang ia cari. Tidak ada lampu terang yang menyambutnya, tidak ada suara musik seperti lagu 'Bernadya; Untungnya bumi masih berputar....' yang biasa dijadikan playlist wajib di angkringan-angkringan mainstream. Bahkan jarang ada percakapan yang biasa terdengar di tempat makan lain. Angkringan ini hanya ada dalam kesunyian, seperti tak ada kehidupan yang tampak diperlihatkan.
Pak Agus, yang duduk di belakang meja kecil, menatap Dika dengan mata yang tak banyak bicara. Tidak ada senyuman atau sapaan hangat. Ia hanya mengangguk pelan saat Dika duduk di meja pojokan dan memesan nasi kucing yang berisi sambel ati, tempe bacem serta teh hangat. Dika merasa canggung, tidak tahu harus berbuat apa. Sebenarnya ingin mulai mengawali pembicaraan, tetapi sungkan untuk memulai. Alhasil, tidak ada percakapan, hanya ada kedamaian yang terasa agak asing di sini. Suasana sepi ini begitu berbeda dengan tempat makan lain yang biasa ia kunjungi, tempat yang penuh dengan suara dan hiruk-pikuk. Di sini, tidak ada sesuatu yang perlu dibicarakan, tidak ada yang perlu diburu. Santai. Tidak terburu-buru.
Keheningan itu membuat Dika merasa tidak nyaman pada awalnya. Ia terbiasa dengan kehidupan yang penuh dengan kebisingan percakapan dengan rekan kerja, suara telepon yang selalu berdering, rapat yang penuh tekanan. Namun, di sini, di angkringan yang tampak begitu tidak berniat untuk berjualan, ia merasakan sebuah ketenangan yang perlahan-lahan menyelinap ke dalam dirinya. Tidak ada yang tergesa-gesa, tidak ada yang menuntut. Hanya ada dirinya, teh hangat, tempe bacem dan nasi kucing yang tak terlalu istimewa, namun semuanya terasa begitu berbeda.
Pak Agus terus duduk dengan tenang, jarang mengangkat kepalanya. Ia tidak peduli apakah pelanggan datang atau pergi. Angkringan ini ada, namun seolah tak ingin ada. Tidak ada keramaian yang dipaksakan, tidak ada layanan ekstra seperti halnya di Mie Gacoan. Bahkan Dika, meskipun datang, tidak merasa diterima dengan sambutan hangat, melainkan hanya dengan keheningan yang tak tertandingi. Makanan dan minuman di sini terasa seperti pelengkap, bukan tujuan utama. Dan semakin lama Dika berada di sini, semakin ia menyadari bahwa yang dijual bukanlah nasi kucing atau teh hangat. Tetapi sesuatu yang lebih dalam terletak di tengah kesunyian itu.
Setelah beberapa saat, Dika merasa cukup. Ia merogoh sakunya, membayar makanannya dan bersiap untuk pergi. Namun, sebelum melangkah keluar, ia menoleh ke arah Pak Agus. Hanya ada sedikit gerakan dari pria itu, sebuah anggukan pelan, cuek, tanpa kata, dan datar. Seperti memberi tahu Dika bahwa kepergiannya tidak perlu penting untuk dibicarakan lebih jauh. Tidak ada sapaan, tidak ada ucapan perpisahan. Dika melangkah keluar, dan dunia di luar angkringan kembali menusuk dengan kebisingan. Suara klakson kendaraan, langkah kaki yang terburu-buru, dan percakapan orang-orang yang tampak tidak peduli satu sama lain.
Namun, anehnya, meskipun dunia luar terus berisik, Dika merasa ada sesuatu yang tetap tenang dan datang di dalam dirinya. Keheningan yang semula terasa aneh dan menyesakkan, kini terasa seperti bagian dari dirinya. Dika menyadari bahwa angkringan ini, yang tampaknya sepi dan tidak berminat untuk berjualan, sebenarnya menawarkan sesuatu yang lebih berharga daripada makanan atau minuman. Di balik kesunyian Pak Agus, ada sebuah ruang untuk berhenti, untuk melepaskan diri sejenak dari dunia yang terus berputar begitu kilat.
Keheningan itu, yang awalnya Dika anggap sebagai kebetulan, ternyata adalah hal yang sengaja diberikan oleh Pak Agus, sebuah keheningan yang bukan sekadar atmosfer pelengkap hidup, tetapi juga hasil dari pengalaman hidup Pak Agus. Ia, yang pernah terperangkap dalam dunia penuh kebisingan dan rutinitas, akhirnya memilih untuk menjalani hidup dalam ketenangan, kesederhanaan dan menepi dari segala hiruk-pikuk. Dan kini, ia tanpa sengaja membagikan ketenangan itu khusus kepada mereka yang datang, meskipun mereka tidak pernah benar-benar tahu apa yang mereka cari.
Pak Agus tidak berniat untuk menjual apapun. Namun, dalam diamnya, ia menjual ketenangan yang hanya bisa ditemukan oleh pelanggannya. Keheningan yang pada akhirnya, adalah bagian dari pengalaman hidupnya sendiri. Dan Dika memperolehnya, dengan tidak perlu membayar menu yang telah dinikmatinya, yaitu 'ketenangan'.
top
BalasHapusPengin jadi pak agus.. tutor dong min
BalasHapusStep pertama, menjadi tua dulu. hee
HapusPengin tau dika itu siapa sih
BalasHapusDika itu siapa saja, yang sama dengannya.
Hapusdapat inspirasi dari mana minnn?
BalasHapusSetelah bangun tidur
Hapus